Post new entry
tobias's Blog
HITAM PUTIH 2007
Liputan6.com, Jakarta: Tepat satu tahun yang lalu, pada hari pertama di Januari 2007, pesawat Adam Air nomor penerbangan 574 hilang, dalam perjalanan dari Surabaya menuju Manado. Sampai saat ini, tak ada satu pun penumpang yang pernah ditemukan.
Cuaca buruk dilaporkan menghalangi komunikasi, namun tak pernah ada penjelasan mengapa kecelakaan itu terjadi. Tiga ribu enam ratus orang lebih dikerahkan dalam pencarian, begitu pun bantuan pihak asing, menelan biaya Rp1 miliar per hari selama kurang lebih satu bulan. Baru pada Agustus 2007, kotak hitam pesawat naas ini ditemukan, dan sampai sekarang masih dalam penelitian pemerintah Amerika Serikat.
Peristiwa itu memulai lembar hitam dalam catatan sejarah transportasi. Kecelakaan demi kecelakaan terjadi, tidak hanya di udara, namun juga di darat maupun laut.
Dua bulan kemudian, kecelakaan menimpa pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan 200, saat mendarat di Yogyakarta. Penyelidikan belakangan menyalahkan sang pilot, karena melanggar prosedur pendaratan. Akibat kelalaiannya, 22 penumpang tewas.
Di laut, Indonesia juga berduka akibat tenggelamnya kapal motor Senopati Nusantara di Laut Jawa, yang menewaskan lebih dari 400 penumpangnya.
Sayangnya, kabar buruk tentang keselamatan transportasi negeri ini tak berakhir di sana. Masih di laut, insiden kapal motor Livina I bulan Februari lalu, masih berbekas di benak. Lebih dari 50 orang tewas, saat kapal terbakar di lepas pantai Jakarta.
Korban bertambah, setelah tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan rombongan wartawan yang datang ke lokasi, tenggelam bersama kapal, seorang di antara korban, merupakan juru kamera SCTV, Muhammad Guntur.
Kecelakaan tak hanya terjadi di udara dan laut. Di darat, maut juga tajam mengintai. Nyaris setiap bulan, media massa menyuguhkan adanya kecelakaan yang menimpa transportasi massal seperti kereta api dan bus.
Berkaca pada tahun 2007, tak heran bila menatap tahun yang baru, muncul pertanyaan, soal kepastian keselamatan perjalanan.
Tahun 2007 juga tak lepas dari bencana alam, yang melanda negeri ini. Ratusan nyawa menghilang, dan ribuan lainnya terpaksa dirawat atau mengungsi
Hanya beberapa hari sebelum tahun 2007 berakhir, Indonesia dikejutkan dengan longsor di Karanganyar, Jawa Tengah. Sebanyak 60 orang lebih tewas, saat longsor menyerang dinihari, saat warga sedang bekerja bakti membersihkan sisa banjir yang melanda wilayah mereka. Korban terbanyak berada di Desa Ledoksari Kecamatan Tawangmangu.
Tragedi ini, dan berbagai longsor lain di sejumlah daerah, seakan mengakhiri tahun yang diwarnai sekian banyak bencana alam.
Sejumlah daerah di indonesia, termasuk ibukota terendam banjir dan pasang laut, yang datang dan surut silih berganti. Penyebabnya bukan hanya kesemrawutan perencanaan pembangunan, namun juga bagian dari dampak pemanasan global, yang menaikkan ketinggian air di daerah pesisir.
Sepanjang 2007, kita banyak mendengar tentang istilah "pemanasan global" mulai dari berbagai forum di luar negeri, sampai akhirnya pada pertengahan Desember, Indonesia menjadi tuan rumah KTT PBB tentang perubahan iklim, yaitu fenomena yang merupakan salah satu dampak pemanasan global. Namun, meski menjadi primadona, itu bukan berarti tahun 2007 merupakan tahun penyelesaian masalah yang sudah menjadi momok dunia ini.
Hitam Putih 2007 juga menyoroti sebelas topik lain yang mengisi lembar perjalanan sepanjang tahun, antara lain menyangkut nasib buruh, kenaikan harga minyak, perseteruan indonesia dan malaysia, bermunculannya aliran agama, berbagai manuver politik, kekerasan bersenjata, hingga bencana alam dan krisis politik di mancanegara. Semua itu kami rangkum dan sajikan untuk Anda, sebagai catatan akhir tahun bagi kita semua.(Merdi Sofansyah)
Posted by tobias on Wed, 09 Jan 2008 14:45, Viewed 3070 times
0 Comments.
Tags: News


