Post new entry

tobias's Blog

Air Meluap Sampai Jauh

Bengawan Solo, riwayatmu ini Sedari dulu jadi perhatian insani Musim kemarau, tak seberapa airmu Di musim hujan air meluap sampai jauh ... Gesang menulis lirik lagu ini tahun 1940. Dia pasti tidak sedang membuat ramalan, ketika menulis bahwa di musim kemarau air Bengawan Solo tak seberapa dan di musim hujan, air meluap sampai jauh. Sudah hampir satu bulan ini air Bengawan Solo meluap sampai jauh, jauh sekali, mulai dari hulunya di Jawa Tengah hingga melewati 600 kilometer di hilirnya. Gesang pasti tidak pernah membayangkan bahwa kelak, 68 tahun kemudian, Bengawan (sungai besar dalam bahasa Jawa) Solo akan banjir seperti yang terjadi saat-saat ini yang meluluhlantakkan 17 dari 20 kabupaten atau kota yang dilewatinya. Gesang pasti tidak menduga, bahwa ia masih hidup untuk menyaksikan setengah dari lebih 15 juta warga yang berdiam di bantaran sungai ini, yang terbentang dari Jawa Tengah hingga di pesisir Jawa Timur, menderita akibat luapan air Bengawan Solo. Mata airmu dari Solo Terkurung gunung seribu Air mengalir sampai jauh Akhirnya ke laut ... Itu perahu, riwayatmu dulu Kaum pedagang s 'lalu naik itu perahu Gesang benar, air Bengawan Solo memang mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut. Tapi, ia tak pernah mengira bahwa sebelum sampai ke laut, air itu merusak tambak, menghancurkan tanaman padi siap panen, merendam jalan serta rumah penduduk. Merusak apa saja yang dilewatinya. Bengawan Solo yang dalam benak Gesang menjadi sumber inspirasi dan romansa, kini berubah menjadi sumber malapetaka. Perahu kaum pedagang yang hilir-mudik di sungai itu, benar-benar telah menjadi "riwayatmu dulu," sedangkan apa yang menjadi "riwayatmu kini" adalah perahu tim SAR yang lalu lalang mengungsikan warga ke tempat yang aman. Apa sebenarnya yang terjdi di Bengawan Solo? Curah hujan yang tinggi memang menjadi sebab adanya banjir, tapi ia jelas bukan faktor tunggal. Laporan-laporan media massa menyebutkan bahwa hutan di hulu Bengawan Solo, seperti kebanyakan hutan di pulau Jawa, praktis tidak dapat lagi menangkap air hujan. Jadi, sedikit saja curah hujan lebih tinggi dari biasa, semua air dari langit itu langsung masuk ke sungai. Penggundulan hutan itu tidak terjadi dalam semalam dan bukan juga tanpa sepengetahuan pemerintah setempat, setidak-setidaknya diketahui oleh aparat tingkat lokal. Bukan saja hutan gundul di hulu yang jadi masalah, tapi juga lebar dan dalam sungai ini sudah mengecil. Pendangkalan sungai menyebabkan volume air yang dapat ditampung menjadi kecil. Maka jadilah, air yang masuk cepat meluber ke daerah sekitarnya. Celakanya, kedua masalah tadi tidak segera diatasi oleh pemerintah. Seperti biasanya, pemerintah baru merespons keadaan jika telah terjadi malapetaka, mirip manajemen pemadam kebakaran. Di luar kedua masalah tadi, air Bengawan Solo juga ternyata telah tercemar limbah berbahaya. Industri dan rumah sakit di Jawa Tengah dan di Jawa Timur kebanyakan membuang limbahnya ke aliran Bengawan Solo. Perlu diketahui, air sungai ini adalah sumber air baku bagi perusahaan air minum milik pemerintah Jawa Tengah. Semua masalah itu membuat Bengawan Solo tidak lagi seindah seperti dalam lagu keroncong Gesang itu. Dan, jangan-jangan, bagi orang Jawa, Bengawan Solo tidak memiliki makna spiritual dan politik lagi seperti dulu. Bengawan Solo adalah saksi berdirinya salah satu pusat kekuasaan dan kebudayaan Jawa, setelah keraton Surakarta yang berada di Kartasura, dipindahkan ke satu desa kecil yang bernama Solo pada 1745. Bengawan Solo juga melahirkan epos Joko Tingkir yang di belakang hari mengubah secara drastis peta politik kerajaan Jawa saat itu. Dalam satu perjalanannya di sungai itu pada abad 16, sang legenda mampu mengalahkan raja buaya dan pasukannya dalam satu pertarungan hidup mati. Setelah itu, 40 buaya jadi pengikutnya dan membantu Joko Tingkir mendorong getek yang ditumpanginya. Cerita yang kita baca di bangku sekolah dasar itu lalu berlanjut dengan keberhasilan lelaki yang bernama asli Mas Karebet itu menjadi Adipati Pajang, setelah menjadi menantu Raja Demak. Belakangan Kerajaan Demak hancur lalu diteruskan oleh Kerajaan Pajang yang kemudian menjadi cikal-bakal Kerajaan Mataram. Nyaris pada seluruh peradaban manusia, sungai selalu menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan. Tapi, kini di Indonesia, sungai telah berubah menjadi sentral bencana, suatu hal yang tak kita jumpai, setidak-setidaknya jarang terjadi, di negara lain. Sebutkan, mana sungai (yang besar) di Indonesia yang terawat dan tetap menjadi pusat kehidupan manusia di sekitarnya? Jawabannya, tak ada satu pun. Rahman Andi Mangussara Kepala Produksi Berita Liputan 6
Posted by tobias on Wed, 09 Jan 2008 14:48, Viewed 4688 times
0 Comments. Tags: News

Comments

  • Post Comment

    •   Name (required)
    •   Email (required, but won't be published)
    •   Homepage
    •     Validation Code